الله
أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,
الله أكبر, الله أكبر. الحمد لله الذى عاد علينا نعمه فى كل نفس ولمحات
وأسبغ علينا ظاهرة وباطنة فى الجلوات والخلوات. وأشهد أن لا إله إلا الله
وحده لا شريك له الذى امتن علينا لنشكره بأنواع الذكر والطاعات. وأشهد أن
محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وسائر البريات. اللهم صل وسلم
على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الفضل والكمالات.
الله
أكبر أما بعد : أيها الحاضرون ! هذا يوم العيد. هذا يوم الفرح. فرح
المسلمون لتوفيق الله إياهم باستكمال بلاء ربهم بفرض الصيام مع الترويحات
فرح المسلمون بوعد ربهم بغفران ما اجترحوا من السيئات واستحلال بعضهم من
بعض فى الحقوق والواجبات.
إخوانى
الكرام ! فى هذا اليوم حرم الله علينا الصيام بعد أن فرضه علينا جميع
الشهر وأخبر أنه فرضه لنكون من المتقين. فمن هذا اليوم ينبغى لنا أن نبعث
فى أنفسنا بارتقائها على مراتب التقوى ونهتم بدين ربنا حتى ننال ما وعدنا
ربنا حقا.
الله
أكبر ! إخوانى الكرام ! إن الله شرع لنا هذا العيد لنعود الى السمع
والطاعة. ونعمل بكتابه بالجد والإجتهاد والقوة. ونبتعد عن التقصير والأعمال
كما وقع فى أعوامنا الماضية.
الله
أكبر. وقال تعالى : ومن أظلم ممن ذكر بأيات ربه فأعرض عنها ونسى ما قدمت
يداه. إنا جعلنا على قلوبهم أكنة أن يفقهوه وفى أذانهم وقرا وإن تدعهم إلى
الهدى فلن يهتدوا إذن أبدا.
الله
أكبر, إخوانى الكرام ! إعلموا أن الله تعالى قد طالبنا فى إقرارنا أن نطيع
ونسمع. فقال تعالى ألم ياءن للذين أمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل
من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست
قلوبهم وكثير منهم فاسقون.
الله
أكبر. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. بادروا بالأعمال قبل ان تظهر
فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسى كافرا ويمسى مؤمنا ويصبح
كافرا. يبيع أحدهم دينه بعرض قليل من الدنيا. رواه مسلم عن أبى هريرة
BAGI umat Islam, momentum Idul Fitri adalah saat-saat penting untuk
bersilaturahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah
dilakukan selama satu tahun, seolah ingin dilebur di hari Lebaran ini, minal a’idin wal-faizin.
Meskipun secara bahasa tidak sesuai, tetapi ungkapan itu dalam
masyarakat kita sering dimaknai "mohon maaf lahir dan batin". Meski
secara kontekstual pemaknaan itu tidak terlalu menyimpang, namun
keluasan dan kedalaman makna ungkapan tersebut tidaklah sepenuhnya
terwakili perkataan "mohon maaf lahir dan batin".
Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Shalat ied yang dirahmati Allah
Dalam istilah agama, ada yang disebut haqqullah atau hak Allah dan
ada yang disebut haqqul adami atau hak manusia. Dosa atau kesalahan
manusia kepada Allah menimbulkan hak bagi Allah untuk menuntut penebusan
dari manusia. Kita menjalankan puasa Ramadhan adalah upaya menebus dosa
dan memohon ampun kepada Allah. Puncaknya adalah Idul Fitri, yaitu
kembali kepada fitrah kita, kepada kesucian.
Namun kembali kepada kesucian itu yang disimbolkan dengan adanya maaf
dari Allah, lalu disempurnakan dengan maaf dari manusia. Dalam
kehidupan keseharian atau bermasyarakat, kita pasti tidak luput dari
berbuat salah kepada sesama. Allah tidak akan mengampuni kesalahan yang
kita lakukan terhadap sesama jika kita tidak mau minta maaf kepada yang
bersangkutan. Di sinilah sebenarnya kaitan antara ungkapan minal a’idin
wal-faizin yang berdimensi vertikal dengan ungkapan mohon maaf lahir dan
batin yang berdimensi horizontal.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ.
Hadirin Jama’ah shalat ied yang Mulis
Hidup pada dasarnya suatu gerak, suatu aktivitas dalam waktu. Ketika
Allah meniupkan ruh ke dalam jasad manusia, maka hidup telah dimulai.
Meminjam istilah Dante Alighori, hidup manusia dimulai di alam paradiso,
yakni alam kebahagiaan. Karena pada saat itu, fitrah atau kejadian asal
manusia bersentuhan secara fisik maupun mental dengan alam materi yang
membuatnya tidak lagi bersih atau suci. Ditambah lagi, manusia itu
makhluk yang lemah sehingga mudah terjerembab ke dalam kenikmatan materi
yang semu. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam materi,
semakin kotor pula alam rohaninya. Akhirnya, terjatuhlah manusia itu ke
alam inferno, yaitu alam kesengsaraan.
Untuk bisa kembali ke alam paradiso atau alam kebahagiaan, manusia
harus melalui proses pembersihan diri di alam purgatorio. Bagi umat
Islam, alam purgatorio tidak lain adalah bulan Ramadhan, yakni bulan
yang didatangkan rahmat, ampunan sekaligus sebagai pencegah agar manusia
tidak jatuh ke alam inferno. Dengan demikian, umat Islam dapat masuk
kembali ke alam paradiso, alam kesucian yang dilambangkan dengan Idul
Fitri.
Sebenarnya, lambang-lambang dari kecenderungan manusia untuk kembali
kepada asal kejadiannya tidak sulit juga ditemukan dalam aktivitas di
hari Idul Fitri. Kita melihat misalnya orang-orang selalu menyempatkan
diri untuk pulang kampung. Mereka bahkan rela berjejal di kereta atau
bus, saling sikut, saling dorong dan sebagainya. Bahkan banyak yang
menginap di terminal atau stasiun kereta karena tidak kebagian tempat.
Besoknya dia berjuang lagi. Kita lihat ribuan TKI yang mengais rezeki di
negeri-negeri jiran, betapa mereka tampak berbondong pulang merindukan
kampung halamannya. Inilah mudik lebaran yang sebenarnya "kembali ke
asal" (ke kampung halaman) atau "kembali ke fitrah" dalam aktualisasi
antropologis.
Apa yang akan mereka lakukan di kampung halaman sama sekali bukan
untuk pamer keberhasilan hidup di perantauan. Tak jarang di antara
mereka hidup di rantau dengan sengsara dalam arti sebenarnya. Dengan
mudah kita bisa menebak rata-rata penghasilan para pendatang yang
mengadu nasib di Jakarta atau kawasan industri di Jabotabek sebagai
pekerja pabrik atau pedagang di sektor informal. Itu pun jika mereka
belum kena PHK akibat pabrik gulung tikar. Jadi, tujuan mereka mudik itu
sama sekali jauh di atas kepentingan material, tetapi didorong
kecenderungan spiritual, yaitu hasrat berkumpul dengan sanak saudara
sekaligus untuk saling memaafkan.
Jama’ah Rahimakumullah
Memaafkan adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Tidak semua orang
mau berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi jika dia
menganggap kesalahan itu terlalu besar sehingga kata maaf dianggap
terlalu ringan dan tidak cukup untuk menebus kesalahan itu. Kata
memaafkan sendiri dalam surat Ali Imran Ayat 134 didahului dengan kata
menahan amarah. Karena orang yang tidak bersedia memaafkan kesalahan
orang lain, biasanya memendam amarah atau menyimpan dendam.
Dalam Al Quran, kata dendam yang terkait gejala kemanusiaan paling
sedikit disebutkan dua kali, yaitu dalam surat Al-Hijr Ayat 45-50 dan
surat Al-A’raf Ayat 43. Kedua redaksi ayat itu persis sama: "Dan kami
lenyapkan segala macam dendam yang ada dalam dada mereka". Keduanya
dirangkai dengan keterangan mengenai keadaan surga. Kesimpulan ringkas
yang diurai petunjuk Al Quran adalah sifat dendam-yang salah satu
bentuknya adalah tidak mau memaafkan kesalahan orang lain-bukanlah sifat
orang yang beriman. Sebab, Allah sendiri Maha Pemaaf. Allah juga
mencirikan orang-orang yang beriman sebagai orang yang apabila marah mau
memberi maaf.
Jelas, memaafkan adalah suatu kualitas dan tingkatan moral
tersendiri. Kalau kita memaafkan kesalahan orang lain berarti kita
menutupi kesalahan orang itu dan rasa marah kita sendiri. Sebab,
keduanya saling berkaitan dengan keikhlasan memberi maaf. Kini
pertanyaannya, mampukah kita meletakkan makna ungkapan "mohon maaf lahir
dan batin" di suasana Lebaran ini dalam kerangka seperti itu? Sungguh
tidak mudah. Sebab, bentuk- bentuk lahiriah dari pernyataan itu tampak
lebih dominan ketimbang makna esensial yang ingin dituju. Lihat para
politisi kita di depan kamera TV saling berpelukan, tetapi di belakang
mereka saling berusaha menjegal dan menikam.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ.
Memang manusiawi dalam kehidupan bermasyarakat termasuk dalam
berpolitik terjadi aneka pertentangan, perebutan kepentingan, dan
konflik. Tetapi, umat Islam diingatkan ajaran agamanya, sehebat apa pun
konflik hendaknya segera dicarikan penyelesaian dengan mengedepankan
semanat ukhuwah (persaudaraan) guna membangun ishlah (perdamaian) di
antara sesama umat manusia yang hingga kini masih tampak sering
terganggu, bahkan terbelah dalam perseteruan.
Bagi kalangan tertentu yang menginginkan dakwah secara radikal dan
menimbulkan permusuhan, maka di hari Idul Fitri, kini adalah saatnya
untuk merenungkan kembali sikap dakwah yang lebih arif (bi al-hikmah).
Pesan nabi Muhammad, "Jangan sampai perselisihan itu berlanjut lebih
dari tiga hari". Mudah-mudahan melalui hari Idul Fitri ini kita bisa
memetik hikmah untuk diterapkan dalam kehidupan nyata, agar rasa damai
dan persaudaraan selalu menyertai kita di mana pun dan kapan pun.
بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بفهمه إنه هو البر الرحيم.
الخطبة الثانية لعيد الفطر
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر.
الحمد
لله أفاض نعمه علينا وأعظم. وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها, أشهد أن لا
إله إلا الله وحده لا شريك له. أسبغ نعمه علينا ظاهرها وباطنها وأشهد أن
محمدا عبده ورسوله. رسول اصطفاه على جميع البريات. ملكهاوإنسها وجنّها.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الكمال فى بقاع الأرض
بدوها وقراها, بلدانها وهدنها.
الله
أكبر أما بعد : إخوانى الكرام ! استعدوا لجواب ربكم متى تخشع لذكر الله
متى نعمل بكتاب الله ؟ قال تعالى ياأيها الذين أمنوا استجيبوا لله ولرسوله
إذا دعاكم لما يحييكم واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه وأنه إليه
تخشرون.
الله
أكبر. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد. كما صليت على إبراهيم
وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد, كماباركت على إبراهيم وعلى
أل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد.
الله
أكبر. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم
والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضى الحاجات. اللهم وفقنا لعمل
صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور. اللهم
أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا
وأصلح ذات بيننا. اللهم اجعلنا نعظم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك. ربنا أتنا فى
الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ
هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.
الله
أكبر. عباد الله ! إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى
عن الفحشاء والمنكر. يعذكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروا على
نعمه يشكركم. ولذكر الله أكبر.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,9-id,60930-lang,id-c,khotbah-t,Idul+Fitri++Memaafkan+dan+Perdamaian-.phpx